December 8, 2011

Test Pack


Sebenarnya, bukan hanya Tata yang menginginkan kehamilan. Gue juga. Kehadiran anak pasti akan melengkapi kebahagiaan kami.

It takes just two cells to make a human being.
Two cells and a miracle...

Sudah tujuh tahun Tata dan Rahmat hidup bersama sebagai suami istri. Saling mencintai, harmonis, punya karir, tapi masih ada yang kurang dalam kehidupan mereka. Anak. Tujuh tahun hidup berumah tangga dan mereka belum juga memiliki anak. Bukannya tidak mau punya anak, Tuhan yang belum menitipkan.

Tata sangat terobsesi tentang kehamilan dan punya anak. Saking terobsesinya, dia tidak pernah bosan menonton ulang video dokumenter tentang kehamilan. Dia membeli mainan bayi walau pun bayi itu sendiri belum ada. Salah satu kamar di rumah dia akui sebagai gudang padahal kamar itu dia isi dengan mainan bayi.

Mereka tidak pernah menahan hadirnya momongan tapi apa daya setelah tahun ketujuh belum ada tanda-tanda Tata hamil. Mungkin Tuhan yang belum berkenan mereka punya anak. Tapi sempat terbersit mungkin Tata yang infertil atau Rahmat yang infertil. Siapa pun yang dinyatakan tidak mampu menghasilkan keturunan, apakah itu sebuah alasan untuk meninggalkannya?

-------------------------------------------------------------------------

Gara-gara baca novel Test Pack-nya Ninit Yunita ini aku jadi kepikiran sesuatu. Gimana kalau aku ternyata infertil? Gimana kalau aku ga akan bisa ngasih future husband-ku anak? Apa dia bakalan tetep sayang sama aku seperti sebelumnya? Dia ga bakal ninggalin aku atau nikah lagi kan? Kupikir, aku bener-bener kepikiran dan jadi takut.

Punya anak itu seperti sebuah kewajiban buat pasangan suami istri. Mereka yang bikin kewajiban itu ada ditambah orang-orang di sekitar yang mendukung kondisi seperti itu. Biar dikata besarin itu anak mahal, ngurus anak itu susah, orang-orang tetap memasukkan punya anak sebagai agenda hidup mereka. Mungkin itu naluri sebagai manusia. Aku juga punya naluri yang sama. Aku juga ingin punya anak, suatu hari nanti. Tapi belakangan aku jadi takut seandainya aku ga bisa punya anak.

Katanya sebuah keluarga belum lengkap kalau belum ada anak. Ketidakadaan anak bisa jadi masalah besar. Saking pentingnya masalah anak ini, ga jarang ada orang yang ninggalin pasangannya karena pasangannya ga bisa ngasih keturunan. Sedih ya? Seolah-olah mereka lupa sama satu hal penting yang dulu bikin mereka jadi satu, cinta. Anak itu penting tapi bukannya keberadaan orang di depan kita juga penting ya?

Ini memang bukan novel baru tapi baru ada jodoh kemarin sama buku ini. Menurutku buku ini sebenernya biasa aja. Maksudnya ga terlalu yang gimana banget, ga sampai bikin emosiku ikut main kaya aku baca novel ringan remaja yang temanya cinta-cintaan. Mungkin aku yang ge bagitu paham. Tapi aku suka ceritanya. Seandainya aja si penulis ga pake istilah-istilah plesetan atau milih nama karakter lebih wajar, mungkin aku ga bakal mikir novel ini sedikit konyol yang aneh. Masa nama dokter kandungannya dr. Peni S. ? Mungkin selera humorku yang payah jadi aku yang ga nangkep itu lucu, akakakak...

Yah, pokoknya setelah baca buku ini jadi kepikiran gimana kalau besok ga bisa punya anak. Terus jadi miris ngeliat ada banyak pasangan yang berharap bisa punya anak tapi belum beruntung sedang di luar sana banyak orang yang ga bertanggung jawab "buang-buang" anak. Entah itu diaborsi karena hasil kecelakaan, dibuang, dsb. Tapi yang lebih penting, yang kudapet dari novel ini adalah ketidakadaan anak bukan alasan buat ninggalin pasangan kita. Misalnya aja pasangan kita infertil, kita kecewa ga bisa dapet anak dari dia, terus kita tinggalin dia. Tau ga, pasangan kita itu kecewanya berkali-kali lipat sama dirinya sendiri. Jangan mikirin perasaan sendiri aja, harus saling support. Terlebih karena tekanan dari sekitar seperti keluarga dan lingkungan bakal jauh lebih besar. Dan katanya dulu nikah karena cinta. Masa gara-gara ga bisa punya anak jadi ga cinta lagi?

5 comments:

Asop said...

Hmmm ada baiknya sebelum menikah lakukan pemeriksaan fertilitas, baik pihak perempuan maupun laki-laki. :)

Feby Oktarista Andriawan said...

Wah kayaknya bukunya unik nih.. :)

Poey said...

@ asop
trus kl ada hasilnya ga bgs,ga jd nikah?syedih dong?!

@ feby
buat yg mo nikah,boleh baca dl,biar pny gmbrn :)

Asop said...

Hasilnya ga bagus seperti apa dulu? :D

Kalo ditemukan kista di rahim sang wanita, itu bisa diobati kok. Nah, diobati dulu, kalo udah yakin nanti sembuh, baru silakan menikah.

Daripada ada kenapa-napa baru tahu pas udah nikah. Ketimbang cerai mending pernikahan yang batal dong. Cerai itu kayaknya lebih berat ketimbang membatalkan pernikahan. :( *saya sotoy*

Kalo soal ternyata sang wanita tak bisa hamil, itu terserah pada keluarga calon mempelai pria. Masih mau lanjut ke nikah, atau nggak. Dan saya harap sang mempelai wanita bisa menerima kenyataan dengan tegar apapun hasilnya.

Poey said...

@ asop
wah makin serius nih...
tp bener sih,yg ptg periksa dl,liat hasil br cr solusi.
yg pasti emg mdg batal nikah drpd cerai.
secara di agamaku ga bs cerai,jd susah urusannya.