December 26, 2011

Dari Noona*

* noona (baca: nuna) = kakak --> panggilan adik cowok atau cowok yang lebih muda ke kakak cewek atau cewek lebih tua.


Sebenernya aku sudah capek menggalau terus selama lima bulan ini. Capek hati, capek pikiran. Aku pengen menggalau sekali lagi di sini. Ini mungkin bakal jadi postingan terakhirku di tahun 2011. Aku berharap tahun depan ga ada postingan kayak gini lagi. Maaf kalau postingannya ga menarik jadi kalau mau lewatin aja. Ini buat Mas Ganteng. Kamu ga harus baca tapi pengennya sih kamu baca...

gimana caranya biar kamu tahu kalau aku kangen? tulis di pasir? tapi aku cuma punya kertas...

December 24, 2011

A Night Before Christmas

"Amazing Grace, how sweet the sound,
that saved a wretch like me.
I once was lost but now am found.
Was blind, but now I see..."

 
Tuhan, tolong temani aku...jangan jauh-jauh...(gambar)


Aku bukan orang yang sereligius itu
sampai berani berkoar-koar tentang iman.
Aku hanya sesosok manusia hina
yang berusaha mencari jalan terang.
Jalan terang itu kutemukan ada pada-Nya,
yang kusebut sebagai Penyelamatku.
Dia menemukanku tersesat
dan atas kebaikan hati-Nya,
Dia menuntunku ke jalan yang terang itu.
Kadang aku seperti hilang arah,
kadang seperti ingin berbalik arah
tapi aku selalu berdoa
agar Dia jangan membiarkanku pergi
dan tetap menggandeng tanganku.
Aku bersyukur bisa berada di jalan ini
dan boleh menjadi bagian dari kebaikan hati-Nya...


Ini malam terakhir sebelum Natal dan besok sudah Natal. Bolehkan aku iri pada kalian yang bisa merasakan kehangatan Natal bersama keluarga. Aku selalu merayakan Natal sendiri karena keluargaku non-kristiani. Malam Natal seperti ini selalu membuatku sedih. Aku jadi teringat tidak ada ibadah Natal bersama, tidak ada makan malam Natal bersama, tidak ada doa malam Natal bersama. Dan lebih sedih lagi karena tahun ini aku benar-benar merasa sendiri. Bahkan teman untuk merayakan malam Natal pun tidak ada. Bukannya tidak punya teman tapi tidak mungkin juga aku mengganggu acara malam Natal teman-temanku dan keluarganya.Yah, yang kupunya memang cuma aku. Tadinya aku ragu untuk ke gereja untuk ibadah malam Natal tapi akan kutegarkan hatiku untuk melangkahkan kaki sendiri ke gereja.

Tidak ada tangan yang kugenggam saat berdoa tapi aku tahu aku tidak sendiri. Paling tidak Dia menemaniku.
Aku tahu ini mungkin terdengar klise dan nelangsa tapi saat aku merasa sendiri, dengan memikirkan Dia aku merasa tenang. Karena Natal bukan tentang pesta pora, tapi tentang anugerah kasih-Nya, akan kukesampingkan kesedihanku dan mencoba tersenyum dari hati sambil berkata, terima kasih Tuhan karena Kau ada...

Dan karena besok itu hari Natal aku mau mengucapkan selamat Natal buat kalian yang merayakan. Semoga kehangatan Natal yang penuh kasih jadi milik kita semua...

Merry Christmas...

December 22, 2011

Dia Malaikatku

Pagi ini aku bangun lebih pagi terus keinget kalo ini hari ibu. Mungkin sebagian orang nganggep hari ini biasa aja. Aku juga ngelalui hari ini biasa aja. Ga ada ritual khusus atau perlakuan khusus yang berlebihan buat mama. Tapi aku sangat mengistimewakan hari ini. Aku bukan orang yang sering bilang sayang ke orang tua jadi aku ga pernah lewatin hari ibu tanpa ingetin mamakuu kalo aku sayang dia.

Tadi aku sms dia...
"Mama...selamat hari ibu...selama ini mama udah jadi mamaku yang paling hebat sedunia...makasih buat semuanya...i love u mama..."

Aku tidur lagi. Terus aku kebangun gara-gara ada sms masuk. Ternyata dari mama.
"Iya sayangku...mama masih banyak kekurangan, mama minta maaf...ambil baiknya, buang jeleknya. Semoga kita selalu diberi kekuatan dalam menghadapi apa pun. Amin."

Abis baca itu aku langsung nangis. Mamaku selalu ngerasa dia itu bukan ibu yang sempurna padahal menurutku dia itu sesempurna yang bisa aku bayangin tentang seorang ibu. Aku ngucapin selamat hari ibu tapi dia malah minta maaf. Udah gitu masih diselipin doa. Seolah-olah dia tau anaknya lagi butuh banyak kekuatan untuk menghadapi banyak hal.

Mama...mama...Mamaku itu orangnya sangat sederhana, sesederhana penampilannya. Dia ga suka berdandan seperti kebanyakan perempuan. Dia ga suka sering beli baju terus sengaja keluar buat dipamerin seperti perempuan-perempuan modis yang up date fashion itu. Dan dia juga orang yang berpikiran sederhana, sesederhana impiannya, hidup bahagia. Dia ga suka bermimpi terlalu tinggi, ga mau punya banyak keinginan. Bukannya sekedar hidup gitu-gitu aja tapi hidup tidak berlebihan menurut dia lebih bijak.

Mamaku itu orang yang sangat idealis. Segala sesuatu hanya hitam dan putih, ga ada abu-abu, paling ga gitu buat dia. Sesuatu yang benar harus dibela sampai mati. Sesuatu yang salah tidak boleh dilakukan, tidak dapat dibenarkan untuk alasan apa pun. Dia ga suka kalau ada orang beralasan demi kebutuhan hidup, demi kebahagiaan, atau demi apa pun lalu melakukan hal yang ga benar. Ukuran hitam dan putih menurut mamaku adalah dosa. Kalau sesuatu Tuhan ga suka dan masuk kategori dosa artinya itu mutlak ga boleh dilakukan.
Dia selalu mengajarkan anak-anaknya menjadi putih dan dia agak kaku soal itu.

Mamaku itu orang yang pelit. Dia ga pernah biarin anak-anaknya terbiasa dan terlena sama harta. Dulu kami pernah ngalamin masa sulit, dia bilang kami bukan siapa-siapa, ga punya harta jadi harus sadar diri. Lalu saat masa subur dia bilang hal yang sama. Saat orang tua lain manjain anak-anaknya, beliin anak-anaknya ini-itu
atau membiasakan mereka jadi bos kecil,dia buat seolah-olah keadaan kami ga sebagus mereka. Kami selalu bilang mama itu pelit tapi pelitnya mamaku paling ga bikin kami sukses beradaptasi dengan berbagai keadaan.

Mamaku itu bukan orang yang sempurna juga sih. Kaya yang dia bilang, masih banyak kurangnya tapi dia berusaha jadi contoh yang baik buat anak-anaknya. Mungkin itu yang di pikiran mamaku. Biar pun mamaku itu orangnya agak galak tapi menurutku dia ibu yang sempurna. Dia ibu yang sangat luar biasa. Dia rela ngelakuin apa aja demi keluarga. Dan dia sudah jadi contoh yang baik buat anak-anaknya. Bukannya aku lebih sayang mama dari papa, tapi apa pun yang kulakukan, aku lakukan semua buat mamaku. Karena aku tau ga ada manusia mana pun yang sayang sama aku melebihi mamaku. Dan mungkin mamaku bukan malaikat tapi kasih sayangnya secemerlang cahaya malaikat...


gambar dari sini

December 8, 2011

Test Pack


Sebenarnya, bukan hanya Tata yang menginginkan kehamilan. Gue juga. Kehadiran anak pasti akan melengkapi kebahagiaan kami.

It takes just two cells to make a human being.
Two cells and a miracle...

Sudah tujuh tahun Tata dan Rahmat hidup bersama sebagai suami istri. Saling mencintai, harmonis, punya karir, tapi masih ada yang kurang dalam kehidupan mereka. Anak. Tujuh tahun hidup berumah tangga dan mereka belum juga memiliki anak. Bukannya tidak mau punya anak, Tuhan yang belum menitipkan.

Tata sangat terobsesi tentang kehamilan dan punya anak. Saking terobsesinya, dia tidak pernah bosan menonton ulang video dokumenter tentang kehamilan. Dia membeli mainan bayi walau pun bayi itu sendiri belum ada. Salah satu kamar di rumah dia akui sebagai gudang padahal kamar itu dia isi dengan mainan bayi.

Mereka tidak pernah menahan hadirnya momongan tapi apa daya setelah tahun ketujuh belum ada tanda-tanda Tata hamil. Mungkin Tuhan yang belum berkenan mereka punya anak. Tapi sempat terbersit mungkin Tata yang infertil atau Rahmat yang infertil. Siapa pun yang dinyatakan tidak mampu menghasilkan keturunan, apakah itu sebuah alasan untuk meninggalkannya?

-------------------------------------------------------------------------

Gara-gara baca novel Test Pack-nya Ninit Yunita ini aku jadi kepikiran sesuatu. Gimana kalau aku ternyata infertil? Gimana kalau aku ga akan bisa ngasih future husband-ku anak? Apa dia bakalan tetep sayang sama aku seperti sebelumnya? Dia ga bakal ninggalin aku atau nikah lagi kan? Kupikir, aku bener-bener kepikiran dan jadi takut.

Punya anak itu seperti sebuah kewajiban buat pasangan suami istri. Mereka yang bikin kewajiban itu ada ditambah orang-orang di sekitar yang mendukung kondisi seperti itu. Biar dikata besarin itu anak mahal, ngurus anak itu susah, orang-orang tetap memasukkan punya anak sebagai agenda hidup mereka. Mungkin itu naluri sebagai manusia. Aku juga punya naluri yang sama. Aku juga ingin punya anak, suatu hari nanti. Tapi belakangan aku jadi takut seandainya aku ga bisa punya anak.

Katanya sebuah keluarga belum lengkap kalau belum ada anak. Ketidakadaan anak bisa jadi masalah besar. Saking pentingnya masalah anak ini, ga jarang ada orang yang ninggalin pasangannya karena pasangannya ga bisa ngasih keturunan. Sedih ya? Seolah-olah mereka lupa sama satu hal penting yang dulu bikin mereka jadi satu, cinta. Anak itu penting tapi bukannya keberadaan orang di depan kita juga penting ya?

Ini memang bukan novel baru tapi baru ada jodoh kemarin sama buku ini. Menurutku buku ini sebenernya biasa aja. Maksudnya ga terlalu yang gimana banget, ga sampai bikin emosiku ikut main kaya aku baca novel ringan remaja yang temanya cinta-cintaan. Mungkin aku yang ge bagitu paham. Tapi aku suka ceritanya. Seandainya aja si penulis ga pake istilah-istilah plesetan atau milih nama karakter lebih wajar, mungkin aku ga bakal mikir novel ini sedikit konyol yang aneh. Masa nama dokter kandungannya dr. Peni S. ? Mungkin selera humorku yang payah jadi aku yang ga nangkep itu lucu, akakakak...

Yah, pokoknya setelah baca buku ini jadi kepikiran gimana kalau besok ga bisa punya anak. Terus jadi miris ngeliat ada banyak pasangan yang berharap bisa punya anak tapi belum beruntung sedang di luar sana banyak orang yang ga bertanggung jawab "buang-buang" anak. Entah itu diaborsi karena hasil kecelakaan, dibuang, dsb. Tapi yang lebih penting, yang kudapet dari novel ini adalah ketidakadaan anak bukan alasan buat ninggalin pasangan kita. Misalnya aja pasangan kita infertil, kita kecewa ga bisa dapet anak dari dia, terus kita tinggalin dia. Tau ga, pasangan kita itu kecewanya berkali-kali lipat sama dirinya sendiri. Jangan mikirin perasaan sendiri aja, harus saling support. Terlebih karena tekanan dari sekitar seperti keluarga dan lingkungan bakal jauh lebih besar. Dan katanya dulu nikah karena cinta. Masa gara-gara ga bisa punya anak jadi ga cinta lagi?

December 7, 2011

Kota Wisata Batu

Selamat Datang di Kota Wisata Batu --> Alun-alun Kota Batu
 
Aku mau cerita soal liburanku beberapa waktu yang lalu. Kapan gitu aku liburan 3D2N ke Batu, Malang. Mumpung ada yang nanggung, jadi gratis. Katanya sih buat hadiah ulang tahun. Sebenernya agak ga enak hati tapi kan ga boleh nolak rejeki jadi aku terima aja hadiahnya, akakakak...

Ada yang udah pernah maen ke Batu? Sumpah, baru nyampe di Batu lima menit aku udah jatuh hati. Biar cuma kota kecil tapi semua serba ada. Kotanya itu tenang, adem, rapi, dan bersih banget. Semua tertata baik. Sempet tanya-tanya sama petugas jaga di alun-alun, katanya pemda Batu memang lagi berusaha membangun kota wisata yang asri. Dan kayaknya mereka berhasil.

Soal liburan, yang harus dipikirin ada lima. Transportasi, akomodasi,  rekreasi, konsumsi, dan paling utama bugdet. Aku coba bahas satu-satu berdasarkan pengalamanku kamerin ya...

BUDGET
Ini yang paling penting. Kita mau liburan yang seperti apa tergantung sama bugdet yang kita punya. Kita bisa liburan dengan gaya apa pun di Batu. Kalau bugdet banyak, ga ada yang perlu dibingungin buat maen ke Batu. Kalau budget terbatas, tenang, mau nyari yang serba murah tapi bagus di Batu sangat bisa. Jadi mau jadi koper atau ransel ga masalah.

inget, sesuaikan sama budget (gambar)

TRANSPORTASI
Naik apa ke Batu? Ada banyak pilihan tapi semua ga ada yang instan. Mau naik kendaraan pribadi bisa tapi mungkin butuh waktu yang lama. Batu itu sekitar 2-3 jam dari Surabaya dan cuma bisa ditempuh lewat darat. Jadi kalau mau naik kendaraan pribadi dikira-kira aja berapa jam perjalanan dari kota kamu ke Surabaya ditambah lama perjalanan ke Batu. Tapi ga harus ke Surabaya dulu sih, tergantung kota keberangkatan. Kecuali kalau naik pesawat atau kereta. Kalau naik pesawat mau ga mau harus landing di Surabaya. Naik kereta juga kebanyakan turun di Surabaya. Setelah itu dari bandara ataua stasiun tetep harus naik mobil. Kemarin sih aku naik kendaraan pribadi. Berangkat dari Solo jam 6 pagi, dengan bantuan GPS tengah hari sampai sana. Lama perjalanan sekitar 7-8 jam. Rutenya itu gampang, kaya rute mau ke Bali cuma di daerah tertentu kita ambil jalan yang beda.

gambar dari sini


AKOMODASI
Di Batu ada banyak hotel. Mulai dari hotel melati sampai berbintang. Mau nyari guesthouse juga banyak. Cari infonya lewat google, sebagian besar punya situs atau blog. Banyak hotel cantik di Batu tapi harganya juga "cantik". Waktu ke Batu aku nginep di dua hotel. Malam pertama di Pohon Inn, ini hotel yang jadi satu sama Jawa Timur Park 2. Dinamain Pohon Inn karena bentuk luarnya kayak pohon. Konsepnya hutan, binatang, back to nature gitu lah. Wallpaper kamar animal print, ornamen-ornamen hotel juga disesuaiin sama tema utamanya. Tarif udah pasti sesuai jenis kamar. Ada tiga jenis kamar superior (twin bed) Rp 400.000, deluxe (double bed)  Rp 500.000, sama executive Rp 900.000. Itu semua tarif weekday, weekend harganya dua kali lipat, liburan lebih mahal lagi. Info lengkap cek di situsnya.

ini aku, di depan Pohon Inn

aslinya ngincer kamar yang wallpapernya zebra tapi dapetnya ini

mupeng kamar yang ini

Malam kedua aku nginep di DeDaunan, yang ini bukan hotel, ini guesthouse konsepnya home & garden cottage. Tapi jangan salah, fasilitas ga kalah sama hotel. Kamarnya juga kayak kamar hotel. Ada banyak tipe kamar di DeDaunan. Ada kamar individual biasa, ada kamar yang pake ruang tamu, ada yang kamar 2 in 1. Bisa pilih sesuai kebutuhan. Suasananya asri banget karena setiap cottage dikelilingi kebun sayur dan banyak tanaman hijau. Tarif kamar lebih murah dari Pohon Inn, range-nya dari Rp 250.000 - Rp 650.000. Kamar yang aku ambil kemarin namanya Sirih, per malem Rp 350.000. Info tipe dan tarif kamar liat aja di situsnya.

Sirih Cottage-ku

pemandangan di sekitar cottage-ku

bagian dalam Sirih

December 2, 2011

Selamat Bulan Desember!!!

Harusnya kemarin nih nulis, jadi masih fresh bulan Desembernya. Apa daya tangan tak sampai ke laptop. Cepet banget ya udah bulan Desember. Aku paling suka bulan Desember karena ada Natal. Aku ngerayain Natal. Sayangnya sendiri. Keluarga besarku ga Natalan jadi aku ga pernah ngerasain kebersamaan Natal kayak pergi ke gereja, makan malam bareng, tuker kado, dsb. Kenapa aku bisa Natalan padahal namaku Bali banget, harusnya aku ngerayain Galungan kan? Dulu aku ngerayain Galungan. Ini pilihan yang aku buat waktu SMA. Panggilan hati, aku selalu bilang gitu kalau ditanya orang. Menurutku ga ada alasan yang lebih tepat dari itu. Buat aku agama itu panggilan hati bukan turunan dari orang tua. Untungnya keluargaku ngerti banget sama pilihanku. Paling ga papa mamaku memaknai kalimat "semua agama baik" dengan membebaskanku milih. Mereka aja cukup. Kalau yang lain ga ngerti bodo amat. Mungkin mereka harus berhenti bilang semua agama baik  karena itu cuma di mulut doang.

Balik lagi, aku selalu semangat kalau udah bulan Desember tapi juga sedih. Bukan karena Natalan sendirian, tapi karena aku ga pernah punya pohon Natal, wreath (hiasan pintu yang bentuknya lingkaran), mistletoe, atau hiasan Natal lainnya. Semua itu serba mahal dan aku ga pernah bisa nabung buat beli. Makanya aku punya impian, nanti waktu aku punya keluargaku sendiri (dan ngerayain Natal), aku bakal bikin tema Natal yang beda tiap tahun. Punya pohon Natal gede buat dihias, pasang wreath di pintu depan, gantung mitsletoe, siapin kado buat setiap orang, siapin makan malam Natal, beli kue-kue, dan ke gereja bareng paginya. Walau pun aku tau Natal bukan cuma sekedar itu semua tapi itu semua sesuatu yang ga pernah aku punya selama ini jadi suatu hari bakal kuwujudin. Giliranku bisa kayak gitu pasti ada kan ya?

Hah...Desember...bau Natal. Selamat Desember aja deh buat semuanya....

pengen hias pohon Natal (gambar)